Perkembangan Biodiesel
Produksi biodiesel telah mengalami perkembangan yang sangat baik. Semua bahan baku untuk biodiesel memiliki asal dan dasar terbarukan yang sama. Energi yang terkandung dalam bahan baku biodiesel diperoleh dari konversi energi matahari menjadi energi kimia yang dikenal dengan istilah fotosintesis (Singh et al., 2020). Berdasarkan keterangan ASTM (American Standart Testing and Material), istilah biodiesel diberikan untuk ester monoalkil dari asam lemak rantai panjang yang dihasilkan dari minyak nabati, minyak tidak dapat dimakan serta minyak limbah, yang dihasilkan dari proses transesterifikasi trigliserida menggunakan metanol dan katalis seperti disajikan pada gambar 2.
Pada umumnya biodiesel diproduksi dengan menggunakan metanol karena biayanya pengadaan metanol yang murah dan ketersediaannya yang mudah. Istilah B100 artinya 100% dari FAME (Fatty Acid Methil Aster), sedangkan B20 menunjuk sebagai 'campuran biodiesel' dalam jumlah yang rendah yaitu sekitar 20% mengandung FAME. Produksi biodiesel bergantung pada energi matahari yang merupakan dasar dari bioenergi berkelanjutan (Singh et al., 2020). Biodiesel banyak digunakan pada beberapa sektor antara lain sektor industri dan trenasportasi, terutama di sektor transportasi, biodiesel masih sangat penting dalam masyarakat saat ini meskipun ada kemajuan besar dalam teknologi untuk mengubah energi matahari menjadi listrik dengan sel fotovoltaik yang saat ini pun banyak digunakan untuk kendaraan listrik.
Untuk bisa memproduksi biodiesel secara berkelanjutan tentunya juga harus diperhatikan pasokan bahan baku untuk biodisel. Pasokan bahan baku biodiesel sangat melimpah di bumi ini. Beberapa negara menggunakan bahan baku untuk memproduksi biodisel sesuai dengan sumber jenis bahan baku di masing-masing negara tersebut. Dari bahan baku yang ada di masing-masing negara tentunya berdampak dengan potensi produksi biodiesel pada negara tersebut. Berikut potensi produksi biodiesel dari beberapa negara seperti pada tabel 1.
Tabel 1 Potensi Biodiesel di beberapa negara, Sumber : (Atabani et al., 2012)
Urutan |
Negara |
Potensi Produksi Biodiesel (Juta L) |
Produksi ($/L) |
|
1 |
Malaysia |
14,540 |
0.53 |
|
2 |
Indonesia |
7595 |
0.49 |
|
3 |
Argentina |
5255 |
0.62 |
|
4 |
Amerika |
3212 |
0.70 |
|
5 |
Brasil |
2567 |
0.62 |
|
6 |
Belanda |
2496 |
0.75 |
|
7 |
Jerman |
2024 |
0.79 |
|
8 |
Pilipina |
1234 |
0.53 |
|
9 |
Belgia |
1213 |
0.78 |
|
10 |
Spanyol |
1073 |
1.71 |
Beberapa negara di Asia juga memproduksi biodiesel dengan bahan baku nabati seperti disajikan dalam tabel 2. Negara Indonesia paling tinggi memproduksi biodiesel dengan bahan baku minyak sawit. Beberapa negara lain memproduksi biodiesel dengan bahan baku minyak jelantah.
Tabel 2 Kondisi biodiesel di negara Asia, Sumber : (Syafiuddin et
al., 2020)
Negara |
Bahan baku utama biodiesel |
Produksi (Juta L) |
Konsumsi (Juta
L)
|
|
Indonesia |
Minyak sawit |
5600 |
32.196 |
|
Thailand |
Minyak sawit |
1567 |
23.602 |
|
Malaysia |
Minyak sawit |
1245 |
11.624 |
|
China |
Minyak jelantah |
834 |
174.999 |
|
Philipina |
Minyak kelapa |
220 |
10.158 |
|
India |
Minyak jelantah |
185 |
102.079 |
|
Jepang |
Minyak jelantah |
17 |
60.573 |
Negara Jepang merupakan negara yang produksi biodieselnya paling rendah yaitu 17 juta liter dengan bahan baku minyak jelantah. Berbeda halnya dengan negara China, dimana mereka mampu memproduksi biodiesel sebesar 834 jua liter dengan bahan baku minyak jelantah.
Beberapa negara pada saat ini juga memanfaatkan biodiesel sebagai sumber energi. Seperti halnya negara Thailand yang memulai pengembangan biodiesel pada tahun 1989 yang mulanya hanya proyek dari kerajaan untuk memberdayakan ekonomi kerakyatan dan saat ini menggunakan kelapa sawit sebagai bahan baku utama, yaitu sekitar 45% CPO digunakan untuk produk biodiesel (Traction Energy Asia, 2020).
Indonesia melakukan penelitian mengenai kelapa sawit sudah dilakukan sejak tahun 1991. Dari hasil penelitian tersebut terus berkembang sehingga berhasil memproduksi biodiesel bahan baku kelapa sawit. Dari tahun ke tahun konsumsi biodiesel di Indonesia terus meningkat seperti disajikan pada gambar 1.

Gambar 1 Konsumsi biodiesel Indonesia (%), Sumber : (Traction Energy Asia, 2020)
Saat ini peningkatan produksi biodiesel terus dilakukan oleh pemerintah untuk memenuhi konsumsi biodiesel yang terus menerus meningkat setiap tahunnya seperti disajikan dalam gambar 2. Perkembangan ini tentunya sangat menggembirakan karean ada hasil nyata dalam meningkatkan bauran energi baru terbarukan.

Gambar 2 Produksi biodiesel Indonesia, Sumber : https://databoks.katadata.co.id
Pemerintah Indonesia melalui Kementerian ESDM menggalakkan Program Mandatori BBN melalui Peraturan Menteri ESDM No. 32 Tahun 2008 tentang Penyediaan, Pemanfaatan, dan Tata Niaga BBN sebagai Bahan Bakar Lain sebagaimana telah diubah terakhir kali dengan Peraturan Menteri ESDM No. 12 Tahun 2015. Tujuan dari mandatori pemanfaatan BBN tersebut antara lain :
- Sebagai tindak lanjut Pemerintah untuk mengurangi emisi Gas Rumah Kaca sebesar 29% dari BaU (Bussiness As Usual) pada tahun 2030
- Untuk meningkatkan ketahan dan kemendirian energi sesuai PP 79 No 2014
- Untuk stabilisasi harga CPO (Crude Palm Oil)
- Meningkatkan nilai tambah melalui hilirisasi industri kelapa sawit
- Memenuhi target kontribusi EBT (Energi Baru Terbarukan) sebesar 23% pada tahun 2025
- Mengurangi impor bahan bakar minyak
- Memperbaiki devisit neraca perdagangan
Dalam memproduksi biodiesel diperlukan beberapa proses dengan menggunakan beberapa mesin. Kumpulan dari beberapa mesin dan menjalankan proses untuk pembuatan produksi dinamakan pabrik. Begitu juga dengan biodiesel, untuk memproduksi biodiesel sekala besar diperlukan sebuah pabrik. Pabrik biodiesel di Indonesia masih didominasi biodiesel dengan bahan baku kelapa sawit. Di Indonesia sudah terdapat beberapa pabrik biodiesel seperti yang disajikan pada gambar 3.
Gambar 3 Sebaran pabrik biodiesel di Indonesia
Dari beberapa pabrik biodiesel yang ada di Indonesia banyak terdapat di pulau Sumatera, dan Jawa. Ini menandakan bahwa perkembangan biodiesel semakin masif di Indonesia. Dengan perkembangan dan permintaan konsumsi biodiesel tinggi maka perlu di imbangi dengan ketersediaan stock bahan baku biodiesel.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar